Minggu, 10 Mei 2015

Recruitment (full time) Mandarin Translator di Kendari, PT. BINTANG SMELTER INDONESIA.
Wisma Nugra Santana lt.8 suite 802. Jl. Jendral Sudirman Kav 7-8, Jakpus.
Email CV to : rizkikuki@yahoo.co.id
Gaji memuaskan (up to 15jt) nego.

Minggu, 26 April 2015

Hasil terbaik belajar bahasa didapat juga dengan cara mempraktekkan...
Setelah selesai mengikuti 1 bagian pelajaran, menguulangi dengan kata-kata sendiri dan dilanjutkan mengerjakan soal-soal latihan, demikianlah pelatihan yang sesungguhnya.
Setelah 2 minggu yang masih tertinggal dalam ingatan :
Dari mendengar 20%
Dari membaca dan melihat 30%
Dari mengulang kata-kata sendiri 70%
Dari mengulang dan mempraktekkan 90% 


--加油--

Minggu, 12 April 2015

MANDARIN ONE (Denpasar) membutuhkan guru Bahasa Mandarin.
Penghasilan Menarik!


Persyaratan :
1. Memiliki komunikasi yang baik, terbuka dan dinamis.
2. Menguasai bahasa Mandarin lisan dan tulisan.
3. Kerjasama tim dengan baik.
4. Disiplin, bertanggung jawab terhadap siswa didik.
5. Menguasai perangkat lunak penunjang pengajaran.
6. Berkeinginan bekerja jangka panjang di Denpasar (Bali)


Hubungi : 0361- 4722125 / 083119700511

Minggu, 22 Maret 2015

Idiom Tentang Belajar :)
By : DigMandarin.com

Need motivation to begin (or continue) studying Mandarin Chinese? Luckily, the language itself contains many inspiring sayings related to learning.
The history of education in China can be tracked back to the 16th century B.C. In ancient times, learning Confucianism was the most efficient way to achieve higher social status for ordinary people. Scholars had to study very hard to prepare for government tests since only the high score let them to get a good governmental job. It looks like the tradition still exists somewhat. Nowadays, Gaokao (National Higher Education Entrance Examination) is considered to be one of the most difficult pre-entrance tests in the world.
So, from Han dynasty until modern times, education was crucially important for Chinese people. Not surprisingly, the Mandarin language boasts so many proverbs and idioms about learning.
I have picked 10 of my favourite expressions for you here:
The Mandarin language is full of “analogical” proverbs and idioms. Learning is compared with something that is difficult to overcome and sometimes unpredictable.
1. 学如登山。 – Xuá rú dēng shān. – Studying is like climbing a mountain.
(Really true!)
2. 学如逆水行舟,不进则退。- Xué rú nì shuǐ xíng zhōu, bù jìn zé tuì. – Studying is like sailing against the current: a boat must forge ahead or it will be swept downstream.
3. 道山学海。- Dào shān xué hǎi. - Learning is as high as the mountains and as wide as the seas. Literally this means “Mountain of Dao, sea of learning”. Dao is a Chinese concept signifying ‘way’ or ‘doctrine’. To become “one with the Dao” is the object of spiritual practice in Chinese Buddhism, Taoism and Confucianism. Understanding the underlying natural order of the whole Universe that is also described as “achieving Dao” definitely requires the “sea of learning”.
Here is one more old metaphor:
4. 玉不琢,不成器。 – Yù bù zhuó, bù chéng qì. – One cannot become useful without being educated. Literally, this old saying means “If a jade is not cut and polished, it can’t be made into anything.” So, training and discipline are necessary for proper bringing up children.
Confucius was a very influential Chinese philosopher and teacher. Not surprisingly, some wise sayings about learning are attributed to him. For example,
5. 三人行,必有我师。 – Sānrén xíng, bìyǒu wǒ shī. – In a group of three people, there will always be one person I can learn from.
This quotation encourages people to learn and increase their knowledge constantly.
The Confucian canon has its core called Classic of Rites (Lijing). This collection of texts contains very important quotation:
6. 学然后知不足 – to learn is to know one’s ignorance.
This means that though learning one understands his/her ignorance. The more you learn, the more you want to know. (Study shows the need for more.)
Behind some of Chinese idioms, there are interesting legends and stories.
7. 悬梁刺骨 – xuán liáng cì gǔ – to study hard
This idiom may be the most well explained. It originates from two ancient Chinese stories. One of them is about Sun Jing (孙敬) who studied very hard – often till morning. Since he was always afraid of falling asleep, he tied his hair to the ceiling beam with a rope. So, he woke painfully if he began to doze off.
The second story is about Su Qin (苏秦), who often studied until late, too. To keeping himself awake, he jabbed his hip with a needle.
8. 凿壁偷光 – záobì tōuguāng – to study diligently
It literally means “to bore a hole in the wall to make use of the neighbor’s light to study. Kuang Heng who lived during the Western Han period was eager to learn but his family was very poor, so he had to borrow books from other people. And not only books! Kuang Heng studied at night, so he needed a light source. Once he noticed a glimpse of light from his neighbor’s house coming through a small hole in the wall. Kuang Heng then dug a bigger hole. The light that came through it let him to read and learn diligently.
Chinese people are very pragmatic. So, there are some expressions that highlight the importance of practical implacability.
9. 学以致用 – xuéyǐzhìyòng - to put into practice what has been learned
Finally, this one is not related directly to studying. However, since so many people all over the world still think that learning is only for young people, it may be useful to remember that…
10. 为时不晚 – wéi shíbù wǎn – it is not too late

Jumat, 13 Maret 2015

Pelatihan Guru Mandarin

老师们,pelatihan guru Mandarin ke Hubei / Sichuan / Beijing / Guangdong dll. Biaya pelatihan dan tinggal gratis selama pelatihan.
Hubungi email : huangshiyou@yahoo.co.id

Kamis, 19 Februari 2015

Jumat, 26 Desember 2014

Apakah untuk mempelajari suatu Bahasa Asing juga perlu memahami Budayanya?

     Saat ditanya bagaimana saya tertarik belajar bahasa baru, saya akan dengan yakin menjawab karena film-film yang saya tonton semasa kanak-kanak. Karena film Disney saya ingin belajar Bahasa Inggris, dan karena film Ular Putih saya sungguh-sungguh belajar Bahasa Madarin. Kesan dalam film-film itu tidak terlupakan hingga saat ini. Setelah beberapa tahun mengajar dan berdiskusi dengan pengajar lain, kesimpulan kami tidak berbeda jauh. Untuk mempelajari bahasa baru, sentuhan dengan budaya baru bukan tidak terhindarkan, namun harus.  

       Membicarakan soal pengajaran bahasa, perlu tidaknya memasukkan pendekatan budaya masih sering didiskusikan. Ada ahli pendidikan yang berpendapat perlu ada pula yang berpendapat sebaliknya. Perbedaan pendapat tersebut adalah kearena perbedaan pandangan esensi pembelajaran bahasa. Di satu sisi bahasa dipandang lebih cenderung pada teknik dan disisi lain adanya kebutuhan pada pemahaman. Namun secara pribadi, saya melihat ada dua hal pentingnya pendekatan budaya untuk keberhasilan mempelajari bahasa. Pertama, di dalam budaya lah terdapat kegembiraan, wawasan, kondisi dan situasi yang turut membentuk bahasa. Jadi tanpa pemahaman budaya, ucapan seperti kurang bermakna, atau kurang mengena pada kondisi tertentu. Kedua, budaya membentuk pola pikir masyarakat yang kemudian terpola dalam bahasanya. Dengan memahami budaya yang berkaitan, akan menghubungkan pola pikir yang ada dalam bahasa tersebut sehingga lebih mudah bagi pembelajar untuk mempelajari ucapan-ucapan dalam bahasa yang dipelajari itu.

     Saat mengajar, menemukan poin-poin untuk mengenalkan budaya cukup penting. Salah satu contohnya adalah cara penggunaan kata "sedikit" dalam bahasa Mandarin. Apabila di Tiongkok seseorang menanyakan seberapa tingkat kemampuan kita dalam berbahasa Mandarin lalu kita jawab "sedikit (一点点)" itu artinya kemampuan kita lumayan. Kemungkinan besar lawan bicara kita langsung menyerbu dengan percakapan yang cukup banyak. Tetapi apabila yang menanyakan itu Bule soal pengetahuan kita terhadap sesuatu lalu kita jawab "sedikit" maka Bule itu akan menganggap kita benar-benar hanya tahu sedikit. Itu karena bagi orang Tiongkok segala kemampuan tidak boleh disombongkan, harus diucapkan dengan rendah hati. Sedangkan bagi bule, ucapan seharusnya apa adanya, tidak seharusnya dikurangi ataupun ditambahkan.  

        Dengan memahami lebih banyak tentang sesuatu hal yang kita pelajari, lebih yakin kita akan ketrampilan dan tingkat pengetahuan kita terhadap hal tersebut. Sama hal nya dengan mempelajari bahasa. Penguasaan gramatikal memang sangat penting. Namun tanpa memahami lebih luas tentang pola pikir masyarakat asal bahasa kita pelajari, kita akan sulit berkomunikasi secara tepat dan percaya diri. 

 

 Selamat Belajar

*加油*